top of page

Sandwich Generation: Ketika Kamu Harus Menanggung Dua Generasi Sekaligus

By : Isaura Cerraline W.


Istilah sandwich generation semakin sering dibicarakan, terutama di kalangan anak muda yang baru mulai bekerja. Istilah ini menggambarkan seseorang yang harus menanggung kebutuhan finansial dua generasi sekaligus: orang tua di satu sisi, dan dirinya sendiri, bahkan terkadang juga adik atau anggota keluarga lainnya.


Fenomena ini bukan sekadar cerita di media sosial. Di Indonesia, kondisi ini semakin nyata. Sebuah riset menunjukkan bahwa sekitar 46,3% Gen Z di Indonesia sudah berada dalam posisi sebagai sandwich generation, yaitu generasi yang harus menanggung kebutuhan finansial keluarga sekaligus membangun hidupnya sendiri. Selain itu, sekitar 66% Gen Z juga mengaku khawatir terhadap masa depan finansial mereka.


Hal ini menunjukkan bahwa banyak anak muda sedang menjalani tekanan finansial yang cukup besar sejak awal karier mereka.

Di Indonesia sendiri, budaya membantu orang tua memang sangat kuat. Bahkan survei Jakpat menunjukkan bahwa 53,4% anak muda memilih memberikan gaji pertama mereka kepada orang tua sebagai bentuk rasa terima kasih.


Nilai ini tentu sangat positif secara sosial. Namun ketika tanggung jawab tersebut berlangsung terus menerus tanpa perencanaan finansial yang baik, tekanan finansial bisa semakin berat.


Realita Finansial Sandwich Generation

Banyak orang membayangkan usia 20-an sebagai masa untuk membangun karier, menabung, dan mulai berinvestasi. Namun bagi banyak Gen Z, realitanya sedikit berbeda.


Di usia ini, mereka sering harus membagi penghasilan untuk banyak kebutuhan sekaligus:

  • biaya hidup sendiri

  • membantu orang tua

  • membantu saudara atau keluarga lain

  • menabung untuk masa depan


Akibatnya, ruang untuk membangun stabilitas finansial sering menjadi sangat terbatas.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa fenomena ini memang berdampak besar pada kondisi finansial generasi muda. Sebuah survei menemukan bahwa 48,6% generasi sandwich di Indonesia merasa kesulitan mencapai tujuan finansial pribadi mereka, seperti menabung atau membeli rumah.


Tidak hanya itu, tekanan finansial juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal keluarga menunjukkan bahwa generasi sandwich sering mengalami stres, kecemasan, dan tekanan emosional karena tanggung jawab finansial ganda yang mereka jalani. Dengan kata lain, sandwich generation bukan hanya soal uang, tetapi juga soal tekanan psikologis.


Kenapa Banyak Anak Muda Terjebak dalam Siklus Finansial

Tanpa perencanaan keuangan yang jelas, seseorang bisa terjebak dalam siklus bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek.


Setiap bulan, gaji datang dan langsung habis untuk berbagai kewajiban. Tidak ada dana darurat, tidak ada investasi yang terencana, dan sulit untuk mulai membangun aset jangka panjang.


Beberapa pola yang sering terjadi pada sandwich generation antara lain:

  • Gaji habis setiap bulan karena harus membantu keluarga

  • Tidak memiliki dana darurat

  • Investasi dilakukan secara acak tanpa strategi

  • Rencana membeli rumah terus tertunda


Padahal, jika kondisi ini berlangsung selama bertahun-tahun, dampaknya bisa sangat besar bagi masa depan finansial seseorang.

Banyak orang baru menyadari hal ini ketika sudah memasuki usia 30-an atau bahkan 40-an.


Apakah Sandwich Generation Bisa Tetap Punya Masa Depan Finansial yang Baik?

Jawabannya, bisa.

Menjadi bagian dari sandwich generation memang menantang, tetapi bukan berarti masa depan finansial harus suram. Yang sering menjadi pembeda bukanlah besar kecilnya penghasilan, melainkan apakah seseorang memiliki financial plan yang jelas.


Perencanaan keuangan membantu seseorang mengatur prioritas dan memastikan bahwa tanggung jawab hari ini tidak sepenuhnya mengorbankan masa depan.


Beberapa langkah dasar yang bisa dilakukan antara lain:

1. Membuat anggaran yang jelas

  • Pisahkan antara kebutuhan pribadi, bantuan untuk keluarga, dan tabungan masa depan.

2. Membangun dana darurat

  • Idealnya dana darurat mencakup 3–6 bulan pengeluaran agar tetap aman jika terjadi kondisi tak terduga.

3. Mulai investasi secara konsisten

  • Meskipun jumlahnya kecil, investasi yang dilakukan secara rutin dapat bertumbuh secara signifikan dalam jangka panjang.

4. Memiliki perlindungan finansial

  • Perlindungan seperti asuransi kesehatan dapat membantu mencegah risiko biaya besar yang dapat menguras tabungan.


Langkah-langkah sederhana ini dapat membantu memutus siklus finansial yang sering dialami oleh sandwich generation.


Masa Depan Tetap Bisa Cerah

Sering kali, generasi sandwich merasa bahwa mimpi seperti membeli rumah, memiliki aset, atau mencapai stabilitas finansial terasa sangat jauh.

Namun sebenarnya, dengan strategi yang tepat, tujuan tersebut tetap bisa dicapai.


Banyak perencana keuangan menyarankan agar anak muda mulai membangun fondasi finansial sejak awal karier. Dengan menabung dan berinvestasi secara konsisten selama 10–15 tahun, seseorang tetap memiliki peluang untuk membangun aset yang signifikan, termasuk memiliki rumah atau investasi jangka panjang.


Yang terpenting adalah memahami bahwa membantu keluarga dan membangun masa depan pribadi bukanlah dua hal yang harus saling bertentangan. Dengan perencanaan yang tepat, keduanya bisa berjalan bersama.


Financial planning pada akhirnya bukan hanya tentang mengatur uang. Ini tentang memastikan bahwa tanggung jawab hari ini tidak mengorbankan masa depan.


Karena membantu keluarga adalah hal yang mulia, tetapi masa depanmu juga sama pentingnya untuk dijaga.

 
 
 

Komentar


Alamat

Alamat

About Us
Products
Testimonials
Team 
FAQs
Logo Kinsure.png
mdi_linkedin.png
ic_baseline-tiktok.png
mdi_instagram.png

© 2025 Kinsure. Semua Hak Dilindungi Undang-Undang

© 2025 Kinsure. Semua Hak Dilindungi Undang-Undang

bottom of page